Amayadori


Eki no ho-mu de mikaketa ,
anatawa mukashino koibito 
sono natsukashii yokogao  
omowazu koemo kaketa watashi 

anatawa odoroita yo-ni
tabako wo otoshiteshimatta 
kudakechitta honoo no hibi ga tsuka no mani 
yomigaeri mitsumeau

do-shiteru ima wa arekara kimiwa 
genkini shiteruwa itsudatte watashi

ochademo nomou- sukoshino jikan densha wa toorisugiteyuku

anata wa ko-hi-kappu ni kakuzato futatsu irete 

imano bokuwa konnamono sa to warainagara kamiwo kakiageta 

so-dakedo fushigine anohi wakareta koto mo 
tada wakasugitadake dato futari yurushiaeru

aishita wa watashi anata no kotowo
ima wa betsubetsu no yume wo ou kedo

meguriai wa sutekina kotone amayadori suru yo-ni futari
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

REFRAIN


Kyou mo mata Hitori koko ni tatazumi Tada sora wo miageru 
Tsumetai kaze ni kokoro furuete boku wa ugoke nakute 
Hari ini aku sendiri lagi, berdiri di sini, hanya menatap langit. 
Angin dingin gemetar hati saya, saya tidak bisa bergerak lagi. 

Mabuta ni nokotta Itsuka no wa Egao 
Katasumi ni saku Ichirin no hana 
Karenai Anda ni Namida de uruoshite ita 
Senyum dari hari lain masih tercermin bawah kelopak mataku 
adalah (seperti) mekar dari satu bunga di sudut 
dibasahi oleh air mata sehingga tidak layu. 

Kimi no koe ga kikoe nakute kikoe nakute kurikaesu Omoi 
Nee? Kienai de Maboroshi de ii kara nee? Boku ni ite 
Boku wo dakishimete ano hi mama tidak ada 
Aku tidak bisa mendengar suaramu, aku tidak bisa mendengarnya, saya berpikir tentang hal itu berulang kali. 
Jangan memudar! Tidak apa-apa jika itu ilusi, hanya tinggal di sisiku. 
Tahan aku seperti pada hari itu. 

Hito wa dare mo ga itoshisa Kanashimi kasane awase nagara 
Yagate kokoro no ni MOZAIKU Anda na wo ai egaite Yuku 
Siapapun dan semua orang memiliki cinta dan kesedihan terjalin 
dalam hati, seperti mosaik, cinta terus dicat. 
Bokura no Deai wa machigai datta tidak? 

Kobore ochita Futari wa no Kakera 
Ima mada demo, kasuka ni iru kagayaite 
Apakah pertemuan kami kesalahan? 
Kami tersebar pecahan 
masih samar-samar bersinar, bahkan sekarang. 

Boku no koe ga kikoe masu ka? Koko ni iru yo kimi o omotte iru 
Kono Namida ga sora e mai agari 
Kimi no moto e furisosogeba ii shiroku tooku ... 
Dapatkah Anda mendengar suara saya? Saya di sini, memikirkan Anda. 
Air mata saya menari ke langit- 
kalau saja mereka bisa mengalir dan menjangkau Anda dalam putih jauh ... 

Kisetsu no hazure ru AWAI yuki-tachi ga itetsuita sora ni mai chitte ' 
Onaji sora o kimi mo ima kutu 'ru no kana 
Bokura wa tsunagatte mada 'ru kana 
The keluar pucat kepingan salju musim yang menari di langit beku. 
Apakah Anda melihat langit yang sama sekarang? 
Apakah kita masih terhubung? 

Kimi no koe ga kikoe nakute kikoe nakute kurikaesu Omoi 
Nee? Kienai de shiroku furitsumotte yo nee? Soba ni ite 
Kono yuki tidak Anda ni 
Aku tidak bisa mendengar suaramu, aku tidak bisa mendengarnya, saya berpikir tentang hal itu berulang kali. 
Jangan memudar! Silakan, tinggal oleh saya, 
seperti salju ini. 

Boku no koe ga kikoe masu ka? Koko ni iru yo kimi wo omotte iru 
Aa Aitakute mou ichido dake de ii kimi ni Aitai 
Negai ga kanau nara Tada Aitai 
Dapatkah Anda mendengar suara saya? Saya di sini, memikirkan Anda. 
Ah ... Aku ingin melihat Anda. hanya sekali akan cukup baik. Saya ingin melihat Anda. 
Jika keinginan saya bisa diberikan, saya hanya akan berharap untuk melihat And

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Heaven



Oh - thinkin' about all our younger years
There was only you and me
We were young and wild and free

Now nothin' can take you away from me
We bin down that road before
But that's over now
You keep me comin' back for more

Baby you're all that I want
When you're lyin' here in my arms
I'm findin' it hard to believe
We're in heaven
And love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven

Oh - once in your life you find someone
Who will turn your world around
Bring you up when you're feelin' down

Ya - nothin' could change what you mean to me
Oh there's lots that I could say
But just hold me now
Cause our love will light the way

N' baby you're all that I want
When you're lyin' here in my arms
I'm findin' it hard to believe
We're in heaven
And love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven

I've bin waitin' for so long
For something to arrive
For love to come along

Now our dreams are comin' true
Through the good times and the bad
Ya - I'll be standin' there by you 
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Santapan Dari Surga


Yunus, putra Adam, pada suatu saat memutuskan untuk tidak
sekedar menyerahkan hidupnya pada nasib, tetapi mencari cara
dan alasan penyediaan kebutuhan manusia.

“Aku manusia,” katanya kepada dirinya sendiri. “Sebagai
manusia aku mendapat sebagian dari kebutuhan dunia, setiap
hari. Bagian itu aku dapat karena usahaku sendiri, didukung
oleh usaha orang lain juga. Dengan menyederhanakan proses
ini, aku akan mencari tahu bagaimana cara makanan mencapai
manusia, dan belajar sesuatu mengenai bagaimana dan
mengapanya. Daripada hidup di dunia kacau-balau ini, dimana
makanan dan kebutuhan lain jelas datang melalui masyarakat,
aku akan menyerahkan diriku kepada Penguasa langsung yang
memerintah segalanya. Pengemis hidup lewat perantara: Lelaki
dan wanita yang pemurah, yang merelakan sebagian hartanya
berdasarkan desakan hati yang tidak sepenuh-penuhnya. Mereka
melakukan itu karena telah dididik berbuat demikian. Aku
tidak mau menerima sumbangan yang tidak langsung itu.”

Selesai berbicara sendiri itu, iapun berjalan ke tempat
terpencil, menyerahkan dirinya kepada bantuan kekuatan gaib
dengan keyakinan yang sama seperti ketika ia menyerahkan
dirinya kepada bantuan yang kasat mata, yakni ketika ia dulu
menjadi guru di sebuah sekolah.

Ia pun jatuh tertidur, yakin bahwa Allah akan mengurus
kebutuhannya sebaik-baiknya, sama seperti burung-burung dan
binatang lain mendapatkan keperluannya di dunia mereka
sendiri.

Waktu subuh, kicau burung membangunkannya, dan anak Adam itu
mula-mula berbaring saja, menanti munculnya makanan.
Meskipun ia mula-mula sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada
kekuatan gaib dan yakin bahwa ia akan mampu memahaminya
kalau kekuatan gaib itu mula bekerja di tempat itu, Yunus
segera menyadari bahwa renungan saja tidak akan banyak
membantunya di medan yang tidak biasa ini.

Ia berbaring di tepi sungai, dan menghabiskan seluruh hari
memperhatikan alam, mengintai ikan di sungai, dan
bersembahyang. Satu demi satu lewatlah orang-orang kaya dan
berkuasa, disertai pengiring yang naik kuda bagus-bagus;
terdengar kelinting pakaian kuda menandakan keyakinan jalan
yang ditempuhnya, dan mendengar salam orang-orang itu karena
mereka melihat ikat kepala yang dikenakannya.
Kelompok-kelompok penziarah beristirahat dan mengunyah kue
kering dan keju, dan air liurnya pun semakin mengucur
membayangkan makanan yang paling sederhana.

“Ini hanya ujian, dan semua akan segera berlalu,” pikir
Yunus, ketika ia selesai mengerjakan sembahyang Isya, dan
memulai tepekurnya menurut cara yang pernah diajarkan
kepadanya oleh seorang darwis yang memiliki pandangan tajam
dan luhur dalam mencapai tujuan.

Malam pun berlalu.

Dan Yunus sedang duduk menatap berkas-berkas sinar matahari
yang patah-patah terpantul di Sungai Tigris yang agung,
ketika lima jam sesudah subuh, pada hari kedua, tampak
olehnya sesuatu menyembul-nyembul di antara alang-alang.
Barang itu ternyata sebuah bungkusan daun yang diikat dengan
serabut kelapa.

Yunus, anak Adam, terjun ke sungai dan mengambil benda aneh
itu.

Beratnya sekitar setengah kilogram. Ketika dibukanya
pengikat itu, bau yang sedap menyerang lubang hidungnya.
Yunus mendapat halwa Bagdad. Halwa makanan itu, dibuat dari
cairan buah badam, air mawar madu, dan kacang – dan pelbagai
bahan lain yang berharga – oleh karenanya sangat digemari
karena rasanya yang enak dan khasiatnya yang tinggi bagi
kesehatan. Putri-putri cantik penghuni harem menggigit-
gigitnya karena rasanya yang enak; para prajurit membawanya
ke medan perang karena bisa menimbulkan ketahanan tubuh. Ia
pun bisa dipergunakan untuk mengobati seratus penyakit.

“Keyakinanku terbukti!” kata Yunus. “Dan kini tinggal
mengujinya. Jika ada halwa yang sebesar ini, atau makanan
yang sama, diantarkan kepadaku lewat sungai ini setiap
hari, atau pada waktu-waktu yang teratur, aku akan
mengetahui cara yang ditempuh oleh Sang Pemelihara
untuk memberi makanan padaku. Dan sesudah itu aku bisa
menggunakan akalku untuk mencari sumbernya.”

Tiga hari berturut-turut sesudah itu, pada jam-jam yang
tepat sama, sebungkus halwa terapung menuju ke tempat Yunus.

Ia berkeyakinan kuat bahwa hal itu merupakan penemuan yang
maha penting. Kita sederhanakan saja keadan kita, dan Alam
terus menjalankan tugasnya dengan cara yang kira-kira sama.
Hal itu saja melupakan penemuan yang dirasanya harus
disebarkan ke seluruh dunia. Bukankah sudah dikatakan,
“Kalau kau mengetahui sesuatu, ajarkan itu.” Namun kemudian
disadarinya bahwa ia tidak mengetahui, ia baru mengalami.
Langkah berikutnya yang harus ditempuh adalah mengikuti
jalan halwa itu mudik sampai ia mencapai sumbemya. Tentu ia
nanti tidak hanya mengetahui asal usulnya, tetapi juga cara
bagaimana makanan itu sengaja disediakan untuk dimakannya.

Berhari-hari lamanya Yunus mengikuti alur sungai setiap hari
secara teratur tetapi pada waktu yang semakin lama semakin
awal halwa itu muncul, dan Yunus memakannya.

Akhirnya Yunus melihat bahwa sungai itu bukannya tambah
sempit di udik, tetapi malah melebar. Di tengah-tengah
sungai yang luas itu terdapat sebidang tanah yang amat
subur. Di tanah itu berdiri sebuah istana yang kokoh namun
indah. Dari sanalah, pikirnya, makanan itu berasal.

Ketika ia sedang memikirkan langkah berikutnya Yunus melihat
seorang darwis yang tinggi dan kusut, yang rambutnya kusut
bagaikan pertapa dan pakaiannya bertambal warna-warni,
berdiri dihadapannya.

“Salam, Bapak,” kata Yunus.

“Salam, huuu!” jawab pertapa itu keras. “Apa pula urusanmu
disini?”

“Saya melakukan suatu penyelidikan suci,” anak Adam itu
menjelaskan, “dan saya harus mencapai benteng di seberang
itu untuk menyempurnakannya. Barangkali Bapak mengetahui
akal agar saya bisa kesana?”

“Karena tampaknya kau tak mengetahui apa-apa tentang benda
itu, walaupun aku sendiri menaruh minat padanya,” kata
pertapa itu, “akan kuberi tahu juga kau tentangya.

Pertama-tama, putri seorang raja tinggal di sana, dalam
tawanan dan pembuangan, dijaga oleh sejumlah dayang-dayang
jelita, memang enak, tetapi terbatas juga geraknya. Sang
Putri tidak bisa melarikan diri sebab lelaki yang menangkap
dan memenjarakannya disana -karena Sang Putri menolak
lamarannya- telah mendirikan rintangan-rintangan yang kokoh
tak terlampaui, yang tak tampak oleh mata. Kau harus
mengungguli rintangan-rintangan itu agar bisa memasuki
benteng dan mencapai tujuanmu.”

“Bapak bisa menolong saya?”

“Aku sendiri sedang akan memulai perjalanan khusus demi
pengabdian. Tetapi, kukatakan padamu rahasia sepatah kata,
Wazifa, yang-kalau memang sesuai untuk itu- akan membantumu
mengumpulkan kekuatan gaib para Jin berbudi, makhluk api,
yakni satu-satunya makhluk yang dapat mengungguli kekuatan
sihir yang telah mengunci benteng tersebut. Semoga kau
selamat.” Dan pertapa itupun pergi, setelah mengucapkan
suara-suara aneh berulang-ulang dan bergerak tangkas dan
cekatan, sangat mengagumkan mengingat sosoknya yang patut
dimuliakan itu.

Berhari-hari lamanya Yunus duduk latihan dan memperhatikan
munculnya halwa. Kemudian, pada suatu malam ketika sedang
disaksikannya matahari bersinar-sinar di menara benteng,
tampak olehnya pemandangan yang aneh. Disana, berkilauan
dalam keindahan sorgawi, berdirilah seorang gadis yang
tentunya putri yang dikisahkan itu. Beberapa saat lamanya ia
berdiri menyaksikan matahari, dan kemudian menjatuhkan
sesuatu ke ombak yang mengalun jauh di bawah kakinya -yang
dijatuhkannya itu adalah halwa. Nah, ternyata itulah sumber
langsung karunianya.

“Sumber Makanan Sorga!” teriak Yunus. Kini ia merasa berada
diambang kebenaran. Kapanpun nanti, Pemimpin Jin, yang
dipanggil-panggilnya lewat wazifa darwis, tentu datang, dan
akan dapatlah ia mencapai benteng, putri, dan kebenaran itu.

Tidak berapa lama sesudah pikiran itu melintas di benaknya,
ia merasa dirinya terbawa terbang melewati langit yang
tampaknya seperti kerajaan dongeng, penuh dengan rumah-rumah
yang indah mengagumkan. Ia memasuki salah satu diantaranya,
dan disana berdiri seorang makhluk bagai manusia, yang
sebenarnya bukan manusia: tampaknya masih muda, namun
bijaksana, dan jelas sudah sangat tua. “Hamba,” kata makhluk
itu, “adalah Pemimpin Jin, dan hamba telah membawa Tuan
kemari sesuai dengan permintaan Tuan melalui Nama Agung yang
telah diberikan kepada Tuan oleh Sang Darwis Agung. Apa yang
bisa hamba lakukan untuk Tuan?”

“O Pemimpin Jin yang perkasa,” kata Yunus gemetar, “aku
Pencari Kebenaran,dan jawaban bagi pencarianku itu hanya
bisa aku dapatkan di dalam benteng yang mempesona di dekat
tempatku berdiri ketika kau memanggilku ke mari. Berilah aku
kekuatan untuk memasuki benteng itu dan untuk berbicara
kepada putri yang terkurung di sana.”

“Permohonan dikabulkan!” kata Sang Pemimpin Jin. “Tetapi
ketahuilah, orang mendapatkan jawaban bagi pertanyaannya
sesuai dengan kemampuannya memahami dan persiapannya
sendiri.”

“Kebenaran tetap kebenaran,” kata Yunus, “dan aku akan
mendapatkannya, apa pun juga ujudnya nanti. Berikan anugerah
itu.”

Segera saja Yunus dikirim cepat-cepat dalam keadaan tak
kelihatan (dengan kekuatan sihir Jin), dikawal oleh
sekelompok Jin kecil-kecil sebagai pembantunya, yang oleh
Pemimpinnya diberi tugas mempergunakan kepandaian khususnya
untuk membantu manusia yang sedang mencari kebenaran itu.
Ditangan Yunus ada sebuah batu cermin khusus yang menurut
petunjuk Pemimpinnya diberikan tugas mempergunakan
kepandaian khususnya untuk membantu manusia yang sedang
mencari kebenaran itu. Di tangan Yunus ada sebuah batu
cermin khusus yang menurut petunjuk Pemimpin Jin harus
diarahkan ke benteng untuk melihat rintangan-rintangan yang
tak kelihatan.

Lewat batu itulah anak Adam mengetahui bahwa benteng
tersebut di jaga oleh sederet raksasa, tak tampak tetapi
mengerikan, yang menghantam siapapun yang mendekat. Jin-jin
pembantu yang ahli dalam tugas khusus berhasil menyingkirkan
mereka. Berikutnya Yunus melihat ada semacam jala atau
jaring yang tak kelihatan, yang menutupi seluruh benteng
itu. Itu pun bisa disingkirkan oleh Jin-jin yang memiliki
kccerdikan untuk melaksanakan tugasnya. Akhirnya ada
seonggokan batu besar yang tak kelihatan yang ternyata
memenuhi jarak antara benteng dan tepi sungai. Batu-batu itu
dibongkar semua oleh kelompok Jin tersebut, yang setelah
menjalankan tugas-tugasnya, memberi salam lalu pergi secepat
kilat ke tempat asalnya.

Yunus menyaksikan ada sebuah jembatan yang dengan kekuatan
gaib, muncul dari dasar sungai sehingga ia bisa berjalan
sampai ke benteng itu dengan tetap kaki kering. Seorang
pengawal gerbang langsung membawanya menghadap Sang Putri,
yang kini bahkan tampak lebih elok lagi dari pada dulu
ketika pertama kali tampak.

“Kami sangat berterima kasih pada Tuan karena telah
menghancurkan rintangan yang mengurus benteng ini,” kata
putri itu. “Dan sekarang saya bisa pulang ke ayah dan ingin
sekali memberi hadiah Tuan yang telah bersusah-payah selama
ini. Katakan, sebut apa saja, dan saya akan memberikannya
kepada Tuan.”

“Mutiara tiada tara,” kata Yunus, “hanya ada satu hal yang
saya cari, yakni kebenaran. Karena sudah merupakan kewajiban
siapa pun yang memiliki kebenaran untuk memberikan kepada
siapapun yang bisa memanfaatkannya, saya memohon dengan
sangat, Yang Mulia, agar memberikan kebenaran yang sangat
saya butuhkan.”

“Katakan, dan kebenaran yang bisa saya berikan, akan
sepenuhnya menjadi milik Tuan.”

“Baiklah, Yang Mulia. Bagaimana, dan atas perintah apa
Makanan Sorga, yakni halwa yang setiap harinya Tuan Putri
berikan kepada saya itu, diatur pengirimannya secara
demikian?”

“Yunus, anak Adam,” kata Sang Putri, “halwa, begitu nama
yang kauberikan, yang saya lemparkan setiap hari itu
sebenarnya tak lain sisa-sisa bahan perias yang saya gosok
setelah saya mandi air susu keledai.”

“Akhirnya saya memahami,” kata Yunus, “bahwa pengertian
manusia sesuai dengan syarat kemampuannya untuk mengerti.
Bagi Tuan Putri, itu merupakan sisa bahan perias. Bagi saya,
Makanan Sorga.”

Catatan

Menurut Halqawi (penulis kisah ini), hanya beberapa kisah
Sufi yang bisa dibaca oleh siapapun waktu kapanpun, dan
tetap bisa memberikan perbaikan “kesadaran batin.”

“Hampir semua yang lain,” katanya, “tergantung pada di mana,
kapan, dan bagaimana kisah-kisah itu dipelajari.
Demikianlah, kebanyakan orang akan menemukan hal-hal yang
mereka harapkan: hiburan, teka-teki, ibarat.”

Yunus, anak Adam, adalah orang Suriah, meninggal tahun 1670.
Ia memiliki kekuatan penyembuhan yang luar biasa dan juga
seorang penemu
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pintu Sorga


hikayat sufiZaman dahulu adalah seorang lelaki yang baik hatinya. Ia telah menjalani hidupnya dengan melakukan segala hal yang memungkinkan orang masuk sorga. Ia memberi harta kepada si miskin, ia mencintai sesamanya, dan ia mengabdi kepada mereka. Karena mengingat pentingnya kesabaran, ia senantiasa bertahan terhadap kesulitan yang besar dan tak diduga-duga, sering itu semua demi kebahagiaan orang lain. Iapun mengadakan perjalanan jauh-jauh untuk mendapatkan pengetahuan. Kerendahhatian dan perilakunya yang pantas ditiru begitu dikenal sehingga ia dipuji-puji sebagai seorang yang bijaksana dan warga yang baik; pujian itu terdengar mulai dari Timur sampai ke Barat, Utara sampai ke Selatan.

Segala kebaikan itu memang dijalankan selama ia ingat melakukannya. Namun ia memiliki kekurangan, yakni kurang perhatian. Kecenderungan itu memang tidak berat, dan ditimbang dengan kebaikannya yang lain, hal itu merupakan cacat kecil saja. Ada beberapa orang miskin yang tak tertolongnya, sebab selalu saja ia kurang memperhatikan kebutuhan mereka itu. Kasih sayang dan pengabdian pun kadang-kadang terlupakan apabila yang dipikirkannya sebagai kebutuhan pribadi muncul dalam dirinya.

Ia suka sekali tidur. Dan kadang-kadang kalau ia sedang tidur, kesempatan mendapatkan pengetahuan, atau memahaminya, atau melaksanakan kerendahhatian, atau menambah jumlah tindakannya yang terpuji kesempatan semacam itu lenyap begitu saja, tak akan kembali lagi.

Wataknya yang baik meninggalkan bekas pada dirinya; begitu juga halnya dengan wataknya yang buruk, yakni kurangnya perhatian itu.

Dan kemudian ia meninggal. Menyadari dirinya berada di balik kehidupan ini, dan sedang berjalan menuju pintu-pintu Taman Berpagar, orang itu istirahat sejenak. Ia mendengarkan kata-hatinya. Dan ia merasa bahwa kesempatannya memasuki Gerbang Agung itu cukup besar.

Disaksikannya gerbang itu tertutup; dan kemudian terdengar suara berkata kepadanya, “Siagalah selalu; sebab gerbang hanya terbuka sekali dalam seratus tahun.” Ia pun duduk menunggu, gembira membayangkan apa yang akan terjadi. Namun, jauh dari kemungkinan untuk menunjukkan kebaikan terhadap manusia, ternyata ia menyadari bahwa kemampuannya untuk memperhatikan tidak cukup pada dirinya. Setelah siaga terus selama waktu yang rasanya sudah seabad kepalanya terkantuk-kantuk. Segera saja pelupuk matanya tertutup. Dan pada saat yang sekejap itu, gerbangpun terbuka. Sebelum mata si lelaki itu terbuka sepenuhnya kembali, gerbang itupun tertutup: dengan suara menggelegar yang cukup dahsyat untuk membangunkan orang-orang mati.

Catatan :

Kisah ini merupakan bahan pelajaran darwis yang disenangi; kadang-kadang disebut “Parabel Tentang Kurangnya Perhatian,” Meskipun terkenal sebagai kisah rakyat, asal-usulnya tak diketahui. Beberapa orang menganggapnya ciptaan Hadrat Ali, Kalifah Keempat. Yang lain mengatakan bahwa kisah itu begitu penting, sehingga tentunya diucapkan sendiri oleh Nabi, secara rahasia. Jelas kisah ini tidak terdapat dalam Hadits Nabi.

Bentuk sastra yang kita pilih ini berasal dari seorang darwis tak dikenal dari abad ketujuh belas, Amil Baba, yang naskah-naskahnya menekankan bahwa “pengarang sejati adalah orang yang karyanya tak bernama (anonim), sebab dengan cara itu tak ada yang berdiri antara pelajar dan yang dipelajarinya.”
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Orang yang Menyadari Kematian


Konon, ada seorang raja darwis yang berangkat mengadakan
perjalanan melalui laut. Ketika penumpang-penumpang lain
memasuki perahu satu demi satu, mereka melihatnya dan
sebagai lazimnya –merekapun meminta nasehat kepadanya. Apa
yang dilakukan semua darwis tentu sama saja, yakni memberi
tahu orang-orang itu hal yang itu-itu juga: darwis itu
tampaknya mengulangi saja salah satu rumusan yang menjadi
perhatian darwis sepanjang masa.

Rumusan itu adalah: “Cobalah menyadari maut, sampai kau tahu
maut itu apa.” Hanya beberapa penumpang saja yang secara
khusus tertarik akan peringatan itu.

Mendadak ada angin topan menderu. Anak kapal maupun
penumpang semuanya berlutut, memohon agar Tuhan
menyelamatkan perahunya. Mereka terdengar berteriak-teriak
ketakutan, menyerah kepada nasib, meratap mengharapkan
keselamatan. Selama itu sang darwis duduk tenang, merenung,
sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap gerak-gerik dan
adegan yang ada disekelilingnya.

Akhirnya suasana kacau itu pun berhenti, laut dan langit
tenang, dan para penumpang menjadi sadar kini betapa tenang
darwis itu selama peristiwa ribut-ribut itu berlangsung.

Salah seorang bertanya kepadanya, “Apakah Tuan tidak
menyadari bahwa pada waktu angin topan itu tak ada yang
lebih kokoh daripada selembar papan, yang bisa memisahkan
kita dari maut?”

“Oh, tentu,” jawab darwis itu. “Saya tahu, di laut selamanya
begitu. Tetapi saya juga menyadari bahwa, kalau saya berada
di darat dan merenungkannya, dalam peristiwa sehari-hari
biasa, pemisah antara kita dan maut itu lebih rapuh lagi.”

Catatan

Kisah ini ciptaan Bayazid dari Bistam, sebuah tempat
disebelah selatan Laut Kaspia. Ia adalah salah seorang
diantara Sufi Agung zaman lampau, dan meninggal pada paroh
kedua abad kesembilan.

Ayahnya seorang pengikut Zoroaster, dan ia menerima
pendidikan kebatinannya di India. Karena gurunya, Abu-Ali
dari Sind, tidak menguasai ritual Islam sepenuhnya, beberapa
ahli beranggapan bahwa Abu-Ali beragama Hindu, dan bahwa
Bayazid tentunya mempelajari metode mistik India. Tetapi
tidak ada ahli yang berwewenang, diantara Sufi, yang
mengikuti anggapan tersebut. Para pengikut Bayazid termasuk
kaum Bistamia.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Air Surga


Haris seorang Badawi, dan istrinya Nafisa hidup

berpindah-pindah tempat membawa tendanya yang tua. Dicarinya

tempat-tempat yang ditumbuhi beberapa kurma, rumputan untuk

untanya, atau yang mengandung sumber air betapapun kotornya.

Kehidupan semacam itu telah dijalani bertahun-tahun lamanya,

dan Haris jarang sekali melakukan sesuatu di luar

kebiasaannya. Ia biasa menjerat tikus untuk diambil

kulitnya, dan memintal tali dari serat pohon kurma untuk di

jual kepada kafilah yang lewat.

Namun, pada suatu hari sebuah sumber air muncul di padang

pasir, dan Haris pun mencicipi air itu. Baginya air itu

terasa bagaikan air sorga, sebab jauh lebih bersih dari air

yang biasa diminumnya. Bagi kita, air itu akan terasa

memuakkan karena sangat asin. “Air ini,” katanya, “harus aku

bawa keseseorang yang bisa menghargainya.”

Karena itulah ia berangkat ke Bagdad, ke Istana Harun

al-Rasyid; ia pun berjalan tanpa berhenti kecuali kalau

makan beberapa butir kurma. Haris membawa dua kantong kulit

kambing penuh berisi air: satu untuk dirinya sendiri, yang

lain untuk Sang Kalifah.

Beberapa hari kemudian, ia mencapai Bagdad, dan langsung

menuju istana. Para penjaga istana mendengarkan kisahnya dan

hanya karena begitulah aturan di istana mereka membawa Haris

ke hadapan Raja.

“Pemimpin Kaum yang Setia,” kata Haris, “Hamba seorang

Badawi miskin, dan mengetahui segala macam air di padang

pasir, meskipun mungkin hanya mengetahui sedikit tentang

hal-hal lain. Hamba baru saja menemukan Air Sorga ini, dan

menyadari bahwa ini merupakan hadiah yang sesuai untuk Tuan,

hamba pun segera membawanya kemari sebagai persembahan.”

Harun Sang Terus terang mencicipi air itu dan, karena ia

sepenuhnya memahami rakyatnya, diperintahkannya para penjaga

membawa pergi Haris dan mengurungnya di suatu tempat sampai

ia mengambil keputusan. Kemudian dipanggilnya kepala

penjaga, katanya, “Apa yang bagi kita sama sekali tak

berguna, baginya berarti segala-galanya. Oleh karena itu

bawalah ia pergi dari istana pada malam hari. Jangan sampai

ia melihat Sungai Tigris yang perkasa itu. Kawal orang itu

sepanjang perjalanan menuju tendanya tanpa memberinya

kesempatan mencicipi air segar. Kemudian berilah ia seribu

mata uang emas dan terima kasihku untuk persembahannya itu.

Katakan bahwa ia adalah penjaga air sorga, dan bahwa atas

namaku ia boleh membagikan air itu kepada kafilah yang lalu,

tanpa pungutan apapun.

Catatan

Kisah ini juga dikenal sebagai “Kisah tentang Dua Dunia.”

Kisah ini disampaikan oleh Abu al-Atahiya dan suku Aniza

(sezaman dengan Harun al-Rasyid dan pendiri Darwis Mashkara

(‘Suka Ria’) yang namanya di abadikan dalam istilah Mascara

dalam bahasa-bahasa Barat. Pengikutnya tersebar sampai

Spanyol, Perancis. dan negen-negeri lain.

Al-Atahiya disebut sebagai “Bapak puisi suci Sastra Arab.”

Ia meninggal tahun 828.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS